Jumat, 20 Juni 2014

Cara Menyemangati Anak Yang Mengalami Kegagalan



Kegagalan adalah bagian dari kehidupan. Kegagalan adalah batu loncatan untuk menuju kesuksesan. Di lingkungan yang menempatkan kebanggaan pada keberhasilan, kegagalan adalah hal yang buruk. Saya tidak mengatakan saya tidak ingin berhasil tapi kita harus memahami bahwa kegagalan dan keberhasilan bukan musuh. Mereka adalah dua sisi dari mata uang yang sama. Berikut adalah hal yang bisa Anda katakan kepada anak Anda setelah dia gagal.
Semua orang pernah gagal . Hal ini tentu tidak membuatnya merasa lebih baik, tapi itu tetap benar. Kadang-kadang orang-orang yang gagal, terutama anak-anak, membiarkan dirinya larut dalam perasaam dan menyalahi diri sendiri dan beranggapan  bahwa mereka "selalu" gagal. Ini tidak benar. Ingatkan mereka bahwa mereka tidak sendirian.

Kegagalan menjadi buruk jika kita tidak mengambil pelajaran dari kegagalan tersebut. Kegagalan adalah guru terbaik. Setiap orang-orang yang sukses pasti pernah mengalami kegagalan. Disini kita harus belajar bagaimana kegagalan kita dapat membuat perubahan. Mengidentifikasi apa yang salah, dan melihat apakah ada sesuatu yang dapat kita lakukan untuk memperbaiki kesalahan kita.

Cinta orangtua ntuk anak tidak berdasarkan pada persentase tentang keberhasilan dan kegagalan . Orangtua harus menyakikan kalimat ini kepada anaknya. Kita dapat memberikan anak-anak kita kesan bahwa satu-satunya cara untuk membuat kita bahagia sebagai orang tua adalah melihat mereka bahagia. Yakinkan anak Anda tentang cinta dan kasih sayang Anda kepada mereka dan kebanggaan Anda kepada mereka tanpa peduli peduli hasil yang di dapatkannya.

Tidak ada yang gagal . Kegagalan adalah kata kerja, bukan kata benda. Usaha yang gagal bukan orangnya yang gagal. Larang anak Anda untuk menghakimi dirinya sendiri sebagai orang yang gagal. Dia mungkin gagal, kita semua juga pernah gagal gagal tapi tak satupun dari kita adalah orang yang gagal.

Semua yang pernah dia lakukan adalah yang terbaik. Saya kurang suka dengan sistem penilaian di sekolah kita. Kita mengatakan bahwa A adalah yang terbaik dan E adalah yang terburuk. Siapa yang membuat aturan itu? Bagaimana jika yang terbaik yang mampu dilakukan seorang anak adalah B-? Haruskah ia ditertawakan karena ia gagal untuk mencapai nilai A? Saya selalu mengajarkan anak-anak saya untuk melakukan hal terbaik yang mereka bisa bukan berdasarkan terbaik menurut masyarakat.

Artikel Terkait

Cara Menyemangati Anak Yang Mengalami Kegagalan
4/ 5
Oleh

Berlangganan

Suka dengan artikel di atas? Silakan berlangganan gratis via email

Like This